
MediaPari||www.media-pari.com
Kabupaten Blitar-media-pari.com, Pengabdian sejati tidak pernah benar-benar berakhir; ia hanya berganti medan. Setelah lebih dari 25 tahun mengabdi kepada Nusa dan Bangsa sebagai anggota TNI-AD, Jamanta (Calon Kepala Desa Nomor Urut 4) memilih untuk “pulang kampung”.
Bukan untuk beristirahat, melainkan membawa misi mulia: mewujudkan masyarakat Desa Sumberboto yang berkesadaran tinggi, guyub, dan selaras melalui filosofi luhur *Memayu Hayuning Bawono*.
Dalam bincang-bincang eksklusifnya dengan *media-pari.com*, Cakades yang akrab disapa Pak Jamanta ini menegaskan bahwa pengabdiannya kini bertransformasi dari menjaga kedaulatan negara di medan tugas, menjadi menjaga hati dan kesejahteraan warga di tanah kelahiran.
**Mempercantik Semesta yang Sudah Cantik**
“Gerakan kembali ke desa ini adalah panggilan hati. Kita harus membangun masyarakat yang sadar akan nilai-nilai keberadaannya, sadar sebagai warga negara yang baik, dan sadar sebagai insan kamil yang senantiasa memperbaiki diri untuk memperbaiki semesta ini,” terang Jamanta.
Ia menggarisbawahi bahwa inspirasi ini bersumber dari kearifan leluhur Jawa, *Memayu Hayuning Bawono*. Sebuah konsep yang bukan sekadar slogan, melainkan sebuah komitmen untuk mempercantik semesta yang sudah cantik, menjaga keseimbangan alam, dan merawat kerukunan antarwarga.
**Empat Dimensi Kesadaran Kolektif**
Menurut Jamanta, kesadaran kolektif ini tidak bisa dibangun secara abstrak. Ia harus diterjemahkan ke dalam empat dimensi nyata yang harus dipahami dan dijalankan bersama oleh masyarakat Desa Sumberboto:
1. **Dimensi APA (Kesadaran Eksistensial):** Menyadari bahwa setiap warga adalah bagian penting dari tubuh Desa Sumberboto. “Kita sadar bahwa keberadaan kita saling melengkapi. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah, kita semua adalah penjaga keseimbangan desa.”
2. **Dimensi MENGAPA (Kesadaran Filosofis):** “Karena hanya dengan kesadaran kolektif inilah kita mampu mengembalikan masyarakat pada tatanan dunia yang lebih baik. Ini adalah fondasi untuk menciptakan keselarasan dan keharmonisan hidup di tengah derasnya arus globalisasi yang kerap mengikis nilai-nilai lokal.”
3. **Dimensi BAGAIMANA (Kesadaran Aksi):** “Caranya dengan mempraktikkan hidup berdampingan secara damai. Saling menghargai perbedaan, mengedepankan musyawarah, dan mengubah energi perpecahan menjadi energi pembangunan yang inklusif.”
4. **Dimensi KAPAN (Kesadaran Waktu):** “Sekarang juga. Tidak perlu menunggu pemimpin datang untuk mengubah keadaan. Perubahan dimulai dari kesadaran diri kita masing-masing, hari ini, di sini, di Desa Sumberboto.”
**Dari Disiplin Militer ke Kearifan Lokal**
Pengalaman lebih dari dua dekade di TNI-AD membentuk karakter Jamanta yang tegas namun rendah hati. Ia menekankan bahwa disiplin yang ia bawa bukan untuk mengekang, melainkan untuk menata.
“Membangun desa bukan hanya tentang proyek fisik atau infrastruktur semata. Yang lebih utama adalah membangun jiwa (*soul building*). Membentuk kesadaran bahwa kita semua adalah satu keluarga besar,” ujarnya dengan nada yang tenang dan menyejukkan.
**Menjaga Harmoni di Tengah Kontestasi**
Menyikapi dinamika Pemilihan Kepala Desa (Pilkades), Jamanta mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga kedamaian. Ia menegaskan bahwa perbedaan pilihan adalah bagian dari kedewasaan demokrasi, namun persaudaraan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.
“Setelah bilik suara ditutup, kita kembali menjadi satu. Tidak ada ‘kubu’ atau ‘golongan’. Yang ada hanyalah warga Desa Sumberboto yang memiliki satu tujuan sama: memajukan desa kita tercinta dengan cara yang bermartabat dan penuh kasih,” tegasnya.
**Harapan untuk Sumberboto**
Ke depan, Jamanta berkomitmen untuk menjadikan Desa Sumberboto sebagai desa percontohan di Kecamatan Wonotirto, bukan hanya dari segi pembangunan fisik, tetapi sebagai desa yang “sadar”. Sadar lingkungan, sadar hukum, sadar kesehatan, dan sadar akan nilai-nilai luhur budaya sendiri.
“Marilah kita bergandengan tangan. Dari seragam TNI-AD ke hati warga, saya siap mengabdi dengan sepenuh hati. Mari kita wujudkan Desa Sumberboto yang *Memayu Hayuning Bawono*: indah, damai, dan menyejahterakan bagi semua,” pungkas Jamanta menutup perbincangan.
Dengan visi yang jernih dan hati yang terbuka, Cakades Nomor Urut 4 ini menawarkan bukan sekadar janji kampanye, melainkan sebuah gerakan spiritual-sosial untuk mengembalikan harkat, martabat, dan keharmonisan hidup masyarakat Desa Sumberboto.
(Fe)










