MediaPari||www.media-pari.com

SUMBA BARAT, NTT – Seringkali kita terkagum-kagum pada kemewahan NIHI Sumba (dulu Nihiwatu Resort) yang tarifnya mencapai ratusan juta rupiah per malam. Namun, tahukah Anda siapa sebenarnya “otak” di balik kesuksesan resort yang dinobatkan sebagai World’s Best Hotel ini?
Jawabannya bukan sekadar nama perusahaan asing, melainkan sebuah kisah tentang visi lokal, kemitraan global, dan dedikasi terhadap pelestarian budaya.
1. Sang Visioner: Claude Grabowski & Chris Brown
NIHI Sumba tidak lahir dari korporasi hotel raksasa, melainkan dari mimpi dua sahabat: Claude Grabowski (seorang pengusaha asal Prancis-Indonesia) dan Chris Brown (seorang peselancar profesional asal Amerika Serikat).
* Awal Mula: Pada tahun 2003, mereka menemukan Pantai Nihiwatu yang masih liar dan terpencil. Terpesona oleh ombaknya yang sempurna dan keindahan alam yang belum tersentuh, mereka memutuskan untuk membeli lahan tersebut.
* Filosofi: Berbeda dengan pengembang resort biasa yang ingin “membangun di atas alam”, Grabowski dan Brown memiliki visi sebaliknya: membangun bersama alam dan budaya setempat. Mereka menolak konsep resort massal dan memilih pendekatan barefoot luxury yang eksklusif dan berkelanjutan.
2. Kepemilikan: Kemitraan Strategis dengan Aman Resorts
Meskipun didirikan oleh Grabowski dan Brown, untuk membawa NIHI Sumba ke standar operasional kelas dunia tanpa kehilangan jiwanya, mereka membentuk kemitraan strategis.
* Aman Resorts: Pada tahun 2017, grup hospitality ultra-luxury Aman Resorts (yang dikenal dengan standar pelayanan tertinggi di dunia) mengakuisisi mayoritas saham NIHI Sumba.
* Mengapa Aman? Pilihan ini sangat cerdas. Aman dikenal karena pendekatannya yang sangat sensitif terhadap lokasi (location-sensitive) dan budaya lokal. Di bawah payung Aman, NIHI Sumba mendapatkan akses ke jaringan pemasaran global dan standar operasional premium, namun tetap mempertahankan identitas uniknya sebagai resort Sumba.
* Peran Pendiri: Claude Grabowski dan Chris Brown tetap terlibat aktif dalam manajemen dan pengembangan properti, memastikan bahwa “jiwa” asli Nihiwatu tidak hilang meski kini berada di bawah bendera internasional.
3. Pengelolaan: Mengutamakan Masyarakat Lokal (Sumba Foundation)
Aspek paling edukatif dari NIHI Sumba bukanlah siapa pemiliknya, melainkan bagaimana ia dikelola. Resort ini tidak beroperasi seperti “enklave asing” yang terpisah dari masyarakat sekitar.
* Sumba Foundation: Sejak awal, para pendiri mendirikan yayasan sosial yang fokus pada kesehatan, pendidikan, dan ekonomi warga lokal. Hingga kini, yayasan ini telah membangun puluhan sekolah, klinik kesehatan, dan program air bersih.
* Pemberdayaan SDM: Sebagian besar staf NIHI Sumba adalah putra-putri daerah Sumba. Mereka dilatih dengan standar internasional, namun didorong untuk tetap mengenakan pakaian adat dan menerapkan nilai-nilai budaya Marapu dalam pelayanan. Ini menciptakan pengalaman tamu yang autentik sekaligus memberikan lapangan kerja berkualitas tinggi bagi warga lokal.
* Pelestarian Budaya: Setiap pembangunan vila baru harus melalui konsultasi dengan tetua adat. Material yang digunakan sebisa mungkin berasal dari sumber daya lokal (kayu, bambu, alang-alang), sehingga resort ini terasa seperti bagian organik dari lanskap Sumba, bukan bangunan impor yang ditempelkan.
4. Pelajaran Berharga untuk Pariwisata Indonesia
Kisah kepemilikan dan pengelolaan NIHI Sumba mengajarkan kita beberapa hal penting:
1. Kemewahan Tidak Harus Menggusur Identitas: Justru, keaslian budaya adalah nilai jual termahal yang tidak bisa ditiru.
2. Kemitraan Global + Visi Lokal = Sukses Berkelanjutan: Kolaborasi antara visioner lokal/pencinta alam dengan operator internasional yang tepat dapat menciptakan destinasi kelas dunia.
3. Pariwisata Harus Memberi Dampak Nyata: Keberhasilan sebuah resort tidak hanya diukur dari pendapatan, tetapi dari seberapa besar ia memberdayakan masyarakat sekitarnya(fe)











