Kabupaten Blitar–media-pari.com

Kamis 27/08/2026 “Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti.”
Ungkapan luhur ini seolah pas menggambarkan suasana di Alun-Alun Lodoyo hari ini. Bukan karena ada perang atau konflik, melainkan karena ribuan warga Blitar, dari yang sepuh hingga muda, berkumpul bersatu dengan rasa tresna asih (c kasih sayang) untuk menyaksikan prosesi sakral Jamasan Pusaka Kyai Pradah.
Keramaian yang terlihat dalam foto ini bukan sekadar kerumunan biasa, melainkan bukti bahwa filosofi “Ojo Gumunan, Ojo Getunan, Oja Kagetan” masih hidup: jangan heran jika tradisi leluhur masih lestari, jangan menyesal jika belum melestarikannya, dan jangan kaget jika budaya Jawa masih menjadi pujaan hati.
Siapakah “Kyai Pradah” Itu?
Tidak semua orang memahami bahwa “Kyai Pradah” bukanlah sekadar gong atau gamelan biasa. Dalam filosofi Jawa, kata “Pradah” bermakna memancar atau bersinar. Kyai Pradah dianggap sebagai pusaka yang memancarkan cahaya keselamatan dan kemakmuran bagi tanah Lodoyo.
Ketika Kyai Pradah di-jamas (dibersihkan/disucikan) dengan air kembang setaman, hal tersebut mengandung makna mendalam:
1. Nyuceni Manah (Menyucikan Hati): Sama seperti pusaka yang harus bersih agar suaranya merdu, manusia pun diharuskan menyucikan hatinya dari sifat sombong, serakah, dan dendam.
2. Harmoni Kehidupan: Gamelan adalah lambang guyub rukun. Setiap instrumen memiliki nada yang berbeda, namun ketika ditabuh bersamaan, menghasilkan musik yang indah. Ini adalah pelajaran luhur bahwa masyarakat Blitar harus mampu menerima perbedaan pendapat agar kehidupan tetap tentrem karta raharja (tenang, aman, dan sejahtera).
Piwulang Luhur (Pelajaran Mulia) Bagi Generasi Muda
Bagi para pemuda Blitar yang hadir di Alun-Alun Lodoyo hari ini, ingatlah pesan leluhur:
“Aja mung bisa nonton, nanging kudu bisa nggondhol.”
Artinya, jangan hanya bisa menonton ritual jamasan, tetapi harus bisa “menggondhol” (mengambil/memahami) hikmah dan nilai-nilai luhurnya. Jika pusaka rusak, siapa yang akan memperbaiki? Jika tradisi hilang, siapa yang akan mengingatnya?
Tradisi Jamasan Kyai Pradah ini juga merupakan wujud Ruwatan Bumi. Masyarakat turut serta dalam doa permohonan agar Desa Lodoyo dan Kabupaten Blitar senantiasa diberi berkah, jauh dari marabahaya, dan tetap menjadi bumi yang makmur gemah ripah loh jinawi (subur makmur dan sejahtera).
Pesan Penutup
Semoga dengan adanya Jamasan Pusaka Kyai Pradah ini, kita semua dapat:
* Eling marang asal-usul (Ingat akan sejarah dan asal-muasal)
* Tresna marang budaya dhewe (Cinta pada budaya sendiri)
* Guyub rukun sesami warga (Rukun dan harmonis antarwarga)
“Memayu hayuning bawana, ambrasta dur hangkara.”
(Memperindah keindahan dunia, memberantas segala kejahatan)-Fe✍️










