MediaPari||www.media-pari.com

JawaTimur Kamis 10/09/2026
Blitar — Opini Di tengah hiruk-pikuk data makroekonomi yang seolah-olah stabil, rakyat kecil justru merasa seperti “ayam totol-totol” kebingungan mencari butiran nasi yang seharusnya ada di piring mereka. Jika kita menilik kembali tembang jadul Gundul-Gundul Pacul ciptaan Sunan Kalijaga, ternyata lirik-liriknya bukan sekadar lagu dolanan anak-anak, melainkan ramalan politik dan ekonomi yang sangat presisi untuk kondisi Indonesia hari ini.
“Gundul-gundul pacul cul gembelengan…”
Pacul yang gundul melambangkan pemimpin atau pengelola aset negara yang kehilangan “rambut” alias kehormatan dan integritasnya. Ia berjalan dengan gaya gembelengan (sombong/berlebih-lebihan) dan petentengan (pamer kekuasaan). Namun, apa yang terjadi?
“Nyunggi wakul wakaule glimpang…”
Wakul dalam filosofi Cak Nun dan banyak pengamat budaya Jawa adalah simbol amanah. Dalam konteks 2026, wakul itu tak lain adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). BUMN seharusnya menjadi wadah suci yang membawa “sega” (nasi/kesejahteraan) untuk rakyat. Nasinya adalah dividen, layanan publik yang murah, dan stabilitas harga pangan.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa wakul tersebut glimpang (terjatuh/tergelincir). Mengapa bisa glimpang? Karena yang menyunggi tidak lagi memegangnya dengan hati-hati, melainkan dengan tangan yang gemetar karena tergoda oleh kepentingan sesaat.
“Segane dadi sak latar…”
Ini adalah bagian paling menyakitkan. Saat wakul jatuh, nasinya tidak hanya tumpah sedikit, tapi berhamburan ke mana-mana (sak latar = seluas halaman). Dalam bahasa ekonomi 2026, ini diterjemahkan sebagai privatisasi terselubung dan penjualan aset strategis BUMN.
Aset-aset yang seharusnya menjadi milik bersama, yang “segaranya” harus dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia, kini tercerai-berai. Sebagian besar “nasi” itu jatuh ke halaman rumah-rumah tertentu—kelompok oligarki, investor asing yang mendapat diskon besar-besaran, atau lingkaran dekat kekuasaan. Sementara rakyat? Rakyat hanya mendapatkan remah-remahnya, atau bahkan tidak sama sekali.
Rakyat Jadi Ayam Totol-Totol
Lirik “Siapa yang katepan, ayamku totol-totol” menjadi sindiran tajam bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Ayam yang totol-totol adalah gambaran rakyat yang kelaparan, bingung, dan berebut sisa-sisa kemakmuran yang tumpah. Mereka berlarian kesana-kemari (kocar-kacir) mencoba memungut butir-butir nasi dari tanah yang sudah tercampur debu korupsi dan inefisiensi.
Di tahun 2026 ini, kita menyaksikan bagaimana narasi “efisiensi BUMN” sering kali menjadi kedok untuk asset stripping. Sektor energi, tambang, hingga infrastruktur digital, satu per satu “wakul”-nya dimiringkan. Alhasil, subsidi yang dulu diharapkan meringankan beban hidup, kini berubah menjadi komoditas yang harganya mengikuti pasar global, sementara keuntungannya mengalir deras ke segelintir orang.
Filsafat yang Terlupakan
Sunan Kalijaga mengajarkan bahwa kepemimpinan itu adalah nyunggi wakul—memikul tanggung jawab berat dengan keseimbangan sempurna. Jika pemimpinnya gembelengan (sombong) dan petentengan (pura-pura kuat), maka keseimbangan hilang. Wakul akan glimpang.
Kondisi Indonesia 2026 mengingatkan kita bahwa krisis bukan hanya soal angka inflasi atau nilai tukar rupiah, tetapi krisis amanah. Ketika wakul glimpang, yang rugi bukan hanya pemilik nasi, tetapi juga martabat bangsa yang terlihat kocar-kacir di mata dunia.
Sudah saatnya kita bertanya: Siapa yang sebenarnya sedang menyunggi wakul itu? Dan mengapa nasi untuk rakyat selalu berakhir di halaman orang lain?(Fe)










