MediaPari||www.media-pari.com
JawaTimur Selasa 12/05/2026

BLITAR– Suasana haru, damai, dan penuh keberkahan menyelimuti kediaman ulama kharismatik, Gus Samsudin, yang terletak di wilayah Blitar, pada Selasa malam.
Acara pengajian rutin mingguan bertajuk “Madhang: Rutinitas Malam Selasa Wage” kembali digelar, dan kali ini dihadiri ribuan jamaah yang berdatangan dari berbagai penjuru daerah, bahkan dari luar kota, untuk bersama-sama berdzikir, bersholawat, dan mendengarkan wejangan rohani.
Ribuan jamaah, mulai dari kalangan muda, orang tua, hingga kaum perempuan, tampak memenuhi halaman kediaman Gus Samsudin. Mereka datang dengan penuh antusias, meski harus berebut tempat duduk demi bisa mengikuti rangkaian acara dari awal hingga selesai.
Di panggung utama, terpasang spanduk besar bertuliskan nama kegiatan “Madhang — Dzikir & Sholawat”, lengkap dengan foto para pengisi acara dan sosok Gus Samsudin yang menjadi pusat harapan dan rujukan spiritual bagi masyarakat luas.
Acara dimulai dengan lantunan sholawat nabi yang dilantunkan oleh grup seni dan sholawat pendamping, diiringi alunan musik yang syahdu dan menenangkan hati.
Suara merdu para penabuh gendang, pemain gambus, dan penyanyi sholawat seolah menyatu, menciptakan nuansa religius yang kental dan membuat suasana semakin khusyuk.
Di tengah panggung, tampak seorang pembicara dan penceramah yang berapi-api namun penuh ketenangan, menyampaikan materi yang mengajak seluruh jamaah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mencintai Nabi Muhammad SAW.
Dalam sambutannya,Gus Samsudin menyampaikan makna mendalam dari kegiatan “Madhang” ini. “Madhang bukan sekadar nama kegiatan, melainkan simbol pemberian makan rohani.
Seperti tubuh yang butuh makan agar kuat, jiwa kita pun butuh asupan dzikir, sholawat, dan ilmu agama agar tetap bersih, kuat, dan terjaga dari hal-hal buruk,” ujarnya di hadapan ribuan jamaah yang mendengarkan dengan saksama.
Ia juga mengajak seluruh hadirin untuk menjaga persatuan dan saling mengasihi, sebagaimana semangat yang selalu ditanamkan oleh Gus Samsudin.
“Di sini tidak ada perbedaan status, jabatan, atau asal daerah. Kita semua sama, sama-sama hamba yang butuh kasih sayang Allah dan syafaat Nabi.
Inilah ciri khas pengajian di sini: mengedepankan kebersamaan, kerendahan hati, dan keikhlasan,” tambahnya, disambut tepuk tangan dan seruan sholawat dari para jamaah.
Salah satu jamaah, warga Blitar yang enggan disebutkan namanya, mengaku rutin hadir setiap minggu. “Rasanya ada ketenangan yang sulit dijelaskan kalau sudah ikut pengajian di sini. Suasananya damai, aman, dan hati jadi lega. Makanya saya dan keluarga selalu usahakan datang, meski harus antre dan berdesak-desakan,” ungkapnya.
Hingga malam menjelang dini hari, ribuan jamaah masih bertahan, melantunkan dzikir bersama, dan mengikuti rangkaian acara hingga selesai. Pengajian rutin “Madhang” ini kini telah menjadi ikon keagamaan di Blitar dan sekitarnya, yang tidak hanya menjadi wadah ibadah, tetapi juga tempat mempererat persaudaraan antarumat beragama, menjaga tradisi luhur, dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan yang selalu ditekankan oleh Gus Samsudin.
Pihak penyelenggara berharap kegiatan ini terus berlanjut, semakin berkembang, dan mampu menjadi cahaya yang menuntun masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik, saleh, dan penuh berkah
(feze)









