Duga !! PEJABAT DISNAKER BOGOR MAKIN GILA HARTA Studi Tiru ke Yogya Cuma Alibi Foya-Foya Pakai APBD, LSM KCBI Bongkar: Urgensi NOL, Manfaat NOL, Yang Ada Hanya PEMBOROSAN Sistematis demi Kenikmatan Pribadi! Lelang Jaminan KSP Surya Abadi di Desa Pikatan Berlangsung Saat Perkara Masih Digugat; LPK-RI: “Tunggu Putusan Pengadilan Dulu!” Asap Kalimantan Kembali Pekat, Kenapa Kita Lupa “Bola Ajaib” Pemadam Api Karya Anak Bangsa? MEMASUKI HARI KE-6, PEMDES SIRNAJATI IMBAU KPM AMBIL BANSOS SEBELUM JUMAT Krisis Polusi Udara di Gandus dan Tangga Buntung Palembang Memicu Polemik, Warga Tuntut Hak Konstitusional Warga Kampung Cibogo Tegal Desa Sindangmulya Mengeluh, Bantuan Beras Pemerintah Diduga Dipungut Rp 20 Ribu per KPM oleh Oknum RT 01

Beranda

Refleksi makna Bulan Asyuro,Muharam,Suro Oleh Ketua DPC GIBM Kota Blitar

badge-check

Refleksi makna Bulan Asyuro,Muharam,Suro Oleh Ketua DPC GIBM Kota Blitar Perbesar

MediaPari||www.media-pari.com

JawaTimur Selasa 16/06/2026

Kota Blitar,16/6 makna bulan asyuro atau suro dalam filsafat Jawa menurut pandangan ketua DPC Kota Blitar KASMANI, memiliki makna yang sangat mendalam dan berbeda jauh dengan konsep perayaan tahun baru pada umumnya.

Berikut adalah inti filosofi bulan Suro:

1. Bulan Hening dan Kontemplasi (Manunggaling Kawula Gusti) Berbeda dengan tahun baru Masehi yang identik dengan pesta pora dan keramaian,Suro dimaknai sebagai waktu untuk”hening”.

Ini adalah momen tapa (menahan hawa nafsu), introspeksi diri, dan perenungan spiritual. Tujuannya adalah mendekatkan diri kepada Sang Pencipta (Gusti), membersihkan batin dari kotoran duniawi, dan mencapai ketenangan jiwa.

2. Simbol Kesadaran akan Kematian dan Kelemahan Manusia Kata “Suro” sering diasosiasikan dengan kesakralan dan bahaya.

Dalam filosofi Jawa, ini bukan berarti takut pada hantu, melainkan kesadaran akan kebesaran Tuhan dan kelemahan manusia. Keheningan di bulan Suro mengingatkan bahwa manusia hanyalah makhluk fana yang harus selalu waspada dan rendah hati. Ritual seperti Mubeng Beteng (mengelilingi benteng keraton dalam diam) atau Tapa Bisu melambangkan penolakan terhadap ego dan keduniawian.

3. Momentum Evaluasi Diri (Muhasabah) Suro dianggap sebagai awal tahun baru Jawa, namun maknanya adalah awal yang baru secara spiritual, bukan sekadar pergantian angka kalender.

Masyarakat Jawa memanfaatkan bulan ini untuk mengevaluasi kesalahan masa lalu, memperbaiki akhlak, dan merencanakan kehidupan yang lebih baik dengan landasan moral dan etika Jawa (unggah-ungguh).

4. Larangan sebagai Bentuk Pengendalian Diri Adanya pantangan atau larangan di bulan Suro (seperti dilarang menikah, pindah rumah, atau membuat hajatan besar) bukanlah takhayul belaka, melainkan metode disiplin spiritual.

Larangan ini berfungsi melatih manusia untuk menahan keinginan pribadi demi menjaga kekhusyukan dan keseimbangan alam semesta (microcosmos-macrocosmos). Dengan menahan diri, manusia belajar menghormati siklus alam dan kehendak Ilahi.

5. Harmonisasi Hubungan Manusia, Alam, dan Tuhan Ritual-ritual Suro (seperti kirab pusaka atau sesajen dalam konteks budaya tertentu) mencerminkan filosofi tri hita karana versi Jawa:

hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Bulan Suro adalah waktu untuk menyelaraskan kembali ketiga hubungan tersebut agar hidup tetap seimbang dan terhindar dari bencana akibat ketidakseimbangan batin maupun sosial.

Kesimpulan: Secara esensi, bulan Suro dalam filsafat Jawa adalah bulan pendidikan karakter dan spiritualitas. Ia mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak datang dari kebisingan atau pamer kekayaan, melainkan dari keheningan, pengendalian diri, dan kesadaran akan posisi manusia di hadapan Sang Pencipta.

 

(Fe)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Duga !! PEJABAT DISNAKER BOGOR MAKIN GILA HARTA Studi Tiru ke Yogya Cuma Alibi Foya-Foya Pakai APBD, LSM KCBI Bongkar: Urgensi NOL, Manfaat NOL, Yang Ada Hanya PEMBOROSAN Sistematis demi Kenikmatan Pribadi!

1 September 2026 - 12:05 WIB

Lelang Jaminan KSP Surya Abadi di Desa Pikatan Berlangsung Saat Perkara Masih Digugat; LPK-RI: “Tunggu Putusan Pengadilan Dulu!”

1 September 2026 - 11:56 WIB

Asap Kalimantan Kembali Pekat, Kenapa Kita Lupa “Bola Ajaib” Pemadam Api Karya Anak Bangsa?

1 September 2026 - 01:13 WIB

MEMASUKI HARI KE-6, PEMDES SIRNAJATI IMBAU KPM AMBIL BANSOS SEBELUM JUMAT

31 Agustus 2026 - 18:23 WIB

Krisis Polusi Udara di Gandus dan Tangga Buntung Palembang Memicu Polemik, Warga Tuntut Hak Konstitusional

30 Agustus 2026 - 14:44 WIB

Trending di Beranda